Halo teman-teman pembaca, Terimakasih ya sudah datang mampir di blog saya ini. Saya mau cerita tentang kisah kodok tuli.
Suatu hari diadakanlah lomba memanjat sumur dalam sebuah perlombaan kelompok kodok. Bagi kodok yang menang akan mendapat hadiah istimewa.
Tersebutlah ada kodok tuli yang ikut dalam pertandingan memanjat sumur itu. Ketika pertandingan sedang berlangsung, sorak sorai penonton sesama kodok bergema menjagokan temannya. Dan satu per satu kodok mulai jatuh kecapekan. Kodok tuli meneruskan usahanya untuk sampai ke bibir sumur. Teriakan dan sorakan dari tepi sumur membuatnya semakin semangat. Tapi berbeda dengan kodok-kodok yang lain, mereka menyerah dan berhenti. Ternyata teriakan dari luar sumur itu adalah teriakan yang mematahkan semangat para kodok itu. Mana mungkin sampai, dia sudah capek, lihatlah dia semakin lemah... suara teriakan dari luar semakin ramai.
Si kodok tuli akhirnya mencapai finish dan dia menang. Ternyata teriakan itu dianggap si kodok tuli adalah teriakan penyemangat. Dia bersyukur karena dia tidak mendengar, dia hanya dapat melihat ekspresi.
Memang tidak bias kita pungkiri, hambatan itu selalu ada dalam setiap usaha kita. Namun sebesar apapun hambatan dari diri kita, ada hambatan yang lebih besar yaitu ada dalam diri kita sendiri. Seringkali kita tidak melanjutkan atau bahkan urungkan niat, ide maupun cita-cita kita yang luar biasa dahsyat ketika banyak orang yang beranggapan kalau ide/pikiran kita itu mustahil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar